Mar 13

Sebuah website bernama www.phojoe.com di Amerika Serikat menyediakan jasa manipulasi foto. Yap, manipulasi foto. Harganya sekitar US$49, atau sekitar Rp. 445.000,- untuk setiap foto yang diedit. Lumayan yah? Jadi desainer grafis, asal mau kreatif sedikit, bisa menemukan ide bisnis yang laku di pasaran.

Dalam hal manipulasi foto, yang diperlukan seorang desainer grafis bukan hanya sekedar skill Photoshop, tapi juga sense akan keindahan. Juga tentang pemilihan tema dan kesesuaian obyek dengan tema. Silakan dilihat. Klik untuk memperbesar.



Tags: ,

Bookmark and Share
Mar 02

Posting kali ini tentang kreatifitas menggunakan Photoshop. Ada orang yang memanipulasi suatu foto dengan kondisi empat musim secara bersamaan. Orang ini memotret satu lokasi yang sama, di titik dan sudut pandang yang sama, tapi dalam MUSIM yang BERBEDA.

Lihat bagaimana cantiknya foto2 ini: (klik untuk memperbesar)


Keren yah?



Tags: ,

Bookmark and Share
Feb 18

Seorang desainer grafis menguasai setidaknya satu keahlian khusus, yaitu di bidang desain. Minimal, dia punya skill khusus untuk mengoperasikan Photoshop. Namun saran saya, jangan berhenti di satu skill. Kolaborasikan dengan skill lain. Misal dengan skill marketing. Atau programming. Atau multimedia, seperti saya punya. Dan lagi, saya juga lagi getol2nya nge-blog.

Ngeblog??

Ya, ngeblog. Blogging. Bikin blog. Bikin blog butuh keahlian khusus juga loh. Skill yang dibutuhkan, antara lain:
1. Skill tentang internet, wordpress, plugins
2. Sedikit pengetahuan tentang bahasa programming, misalkan CSS dan PHP
3. Pengetahuan tentang SEO
4. Skill tentang layout atau tata letak

Wah, keliatannya susah ya? Tapi semua ini bisa dipelajari. Emang butuh waktu dan ketekunan, tapi saya yakin hasilnya sepadan.

Oya, back to topic, mengapa harus ngeblog? Internet sekarang ini sedang kembali booming. Seperti itulah kata Hermawan Kertajaya dalam seminar marketingnya (dikutip dari blognya wawanwae).
Dalam seminarnya, Hermawan bahkan menampilkan gambar Pesta Blogger Oktober tahun lalu.

Blog, saat ini menjadi tren sebagai media iklan yang potensial. Di Indonesia sendiri ada beberapa blogger yang berhasil meraup ratusan sampai ribuan dollar dari iklan di blognya. Maklum, belanja iklan online di AS saja sudah mencapai trilyunan rupiah.



Kalau kita sudah mempunyai satu skill desain, mengapa tidak menambah skill yang lain,
demi karir cerah di masa depan?

Tags:

Bookmark and Share
Jan 20

Selama dua minggu ini saya direpotkan oleh job printing outdoor.
Printing outdoor biasanya digunakan untuk keperluan billboard atau reklame,
neon box, dan sebagainya. Ya intinya buat keperluan di luar ruangan lah.

Anyway, ketika itu saya membuat stiker vinyl, dengan desain brand logo
sebuah perusahan rokok. Karena perusahaan tempat saya bekerja
tidak memiliki mesin printing outdoor sendiri, maka saya harus order
ke provider printing outdoor.
Okey, seperti biasa, saya buatkan contoh print (proof) dulu
untuk melihat warna dan ketajaman. Kalau sudah oke, baru dibuatkan
yang ukuran aslinya. Nah, dari sini masalah dimulai.

Sebagai perusahaan yang brand nya sudah tersebar,
masalah warna tentu menjadi sangat sensitif.
Bergeser sedikit saja sudah reject, alias no, no,
warnanya salah, kamu harus ganti itu warna. Buset.

Perlu diketahui, kebanyakan provider printing outdoor
memerlukan beberapa jam, bahkan satu hari ful
hanya untuk membuat satu proof saja.
Bukan prosesnya yang lama, tapi ngantrinya yang kepanjangan.
Jadi ketika proof pertama ditolak, saya kehilangan waktu satu hari
untuk membuatkan satu proof baru.

Waktu itu saya bikin proof sampai 3 kali sampai akhirnya
saya putuskan untuk mengubah cara saya.
Pertama, saya buat layout seperti pada gambar dibawah:

Saya hanya memasukkan elemen2 penting seperti warna logo dan produk.

Kemudian, warna2 ini saya “geser”, misalkan kalau warna merah jadi lebih oranye.
Warna biru jadi lebih ungu, dsb.
Lihat gambar pertama, saya membuat 10 macam pergeseran warna,
agar nantinya kalau ada satu yang tepat, warna itu yang bisa dijadikan patokan
untuk dibuatkan ukuran sesungguhnya.

Cara ini lebih manjur, karena setidaknya saya bisa lebih meraba
konfigurasi susunan warna mesin printingnya. Tapi ada satu masalah lagi.
Ternyata, ketika berganti hari, mesin printing outdoor tidak bisa konsisten
dalam masalah warna. Beda dengan printer2 seperti EPSON atau CANON.
Sebabnya, selain pergantian head pada mesin printing,
masalah pengaturan suhu mesin juga mempengaruhi warna.
Belum masalah kerapatan dan ukuran.
Telalu rumit, terlalu manual. Weleh weleh weleh..

Jalan terakhir, saya harus duduk sendiri di meja operator dan melakukan setting
di tempat, dan proof yang harus langsung keluar saat itu juga.
Baru dengan cara ini saya bisa mendapatkan warna yang saya inginkan. Oh my..



Tags: ,

Bookmark and Share